tentang (nyaris) rusuh makassar
...maradeka to Wajo'e ade'na napaPuang...
Satu. Sebenarnya kerusuhan rasialis anti-Cina di Indonesia sudah sering terjadi, pada tahun 1964 pernah terjadi kerusuhan serupa di Bandung (tepatnya di kampus ITB), yang dimulai dari persoalan yang sangat sepele (kata Amien Rais; peanuts!) yakni persoalan rebutan bangku depan di kelas kuliahan di Teknik Sipil ITB antara mahasiswa pribumi dan mahasiswa keturunan. Namun kemudian, rupanya bentrok ini dimanfaatkan oleh para Spin Doctor untuk meletupkan kerusuhan anti-Cina. Linknya bisa dilihat di milis kuya sipil ITB di sini. Rusuh anti-China di Makassar juga pernah terjadi sejak tahun 1960-an sampai yang terakhir bulan September 1997 . Baca hasil reportase Tomi Leebang di sini.
Dua. Ada pendapat, lebih tepatnya dianggap dugaan bahwa keberhasilan pemuka masyarakat Makassar meredam kerusuhan (beritanya di sini) dikarenakan pemuka masyarakat Keturunan Tiong hoa di Makassar 'menyuap' pemuka masyarakat Makassar dengan uang sehingga mereka mau dan sudi turun menghimbau masyaraka untuk tidak terpancing berbuat rusuh. Pendapat ini dilontarkan oleh seorang rekan pelajar dari Singapore dengan nada tendensius dan kelihatan emosional. Hal ini mungkin terlontar mengingat, dia adalah juga salah seorang saksi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Saya menganggap bahwa hal ini tendensius mengingat beberapa fakta yang kontradiktif dan tidak sejalan dengan berita-berita yang termuat di beberapa media massa. Keluarga korban, pelajar dan mahasiswa Sinjai (IPMS), pemuka masyarakat, ulama, pendeta, polisi, bahkan Wapres turun menghimbau untuk tidak larut dalam amuk massa. Siapakah yang bisa membayar dan menyuap mereka semua untuk melakukan gerakan nurani menghimbau kepedulian dan kesadaran masyarakat? Kelihatannya bukan saatnya lagi kita kemudian menuduhkan hal-hal yang irasional untuk niat baik yang dicoba ditumbuhbangkitkan oleh masyarakat kita yang toleran (we should find 'again' our lost famous personality, right?). Kalau semua niat baik, kemudian kita generalisir dengan asumsi yang tendensius, maka kemana lagi niat dan semangat kebersamaan yang akan kita bangun kalau kita selalu menilainya dari sudut pandang yang negatif?
Tiga. Ternyata si Wandi, pemuda keji pembunuh dan pemicu (hampir) rusuh Makassar itu tidak gila alias waras atawa normal menurut hasil pemeriksaan Tim Psikolog (berita Fajar baca di sini) . Jadi, kesimpulan dari tim doketer/psikolog, Wandi membunuh pembantunya dilakukan dengan kesadaran penuh. Naudzubillahi min dzalik!. Orang ini mungkin perlu di hukum mati sebagaimana dikehendaki oleh keluarga Hasniati - sang korban, namun menurut saya, hukuman ini belum pantas buat dia, ada baiknya di penjara saja seumur hidup, supaya bayang-bayang kematian korban akibat perbuatan kejinya terus menerus menghantui hari-harinya. Itu lebih setimpal. Orang feodal yang gak punya sisi kemanusiaan dan menghilangkan kemanusiaan manusia marjinal yang 'kebetulan' dibayar olehnya atas pekerjaan halal itu tidak pantas di'manusia'kan. SHIT!
Satu. Sebenarnya kerusuhan rasialis anti-Cina di Indonesia sudah sering terjadi, pada tahun 1964 pernah terjadi kerusuhan serupa di Bandung (tepatnya di kampus ITB), yang dimulai dari persoalan yang sangat sepele (kata Amien Rais; peanuts!) yakni persoalan rebutan bangku depan di kelas kuliahan di Teknik Sipil ITB antara mahasiswa pribumi dan mahasiswa keturunan. Namun kemudian, rupanya bentrok ini dimanfaatkan oleh para Spin Doctor untuk meletupkan kerusuhan anti-Cina. Linknya bisa dilihat di milis kuya sipil ITB di sini. Rusuh anti-China di Makassar juga pernah terjadi sejak tahun 1960-an sampai yang terakhir bulan September 1997 . Baca hasil reportase Tomi Leebang di sini.
Dua. Ada pendapat, lebih tepatnya dianggap dugaan bahwa keberhasilan pemuka masyarakat Makassar meredam kerusuhan (beritanya di sini) dikarenakan pemuka masyarakat Keturunan Tiong hoa di Makassar 'menyuap' pemuka masyarakat Makassar dengan uang sehingga mereka mau dan sudi turun menghimbau masyaraka untuk tidak terpancing berbuat rusuh. Pendapat ini dilontarkan oleh seorang rekan pelajar dari Singapore dengan nada tendensius dan kelihatan emosional. Hal ini mungkin terlontar mengingat, dia adalah juga salah seorang saksi kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Saya menganggap bahwa hal ini tendensius mengingat beberapa fakta yang kontradiktif dan tidak sejalan dengan berita-berita yang termuat di beberapa media massa. Keluarga korban, pelajar dan mahasiswa Sinjai (IPMS), pemuka masyarakat, ulama, pendeta, polisi, bahkan Wapres turun menghimbau untuk tidak larut dalam amuk massa. Siapakah yang bisa membayar dan menyuap mereka semua untuk melakukan gerakan nurani menghimbau kepedulian dan kesadaran masyarakat? Kelihatannya bukan saatnya lagi kita kemudian menuduhkan hal-hal yang irasional untuk niat baik yang dicoba ditumbuhbangkitkan oleh masyarakat kita yang toleran (we should find 'again' our lost famous personality, right?). Kalau semua niat baik, kemudian kita generalisir dengan asumsi yang tendensius, maka kemana lagi niat dan semangat kebersamaan yang akan kita bangun kalau kita selalu menilainya dari sudut pandang yang negatif?
Tiga. Ternyata si Wandi, pemuda keji pembunuh dan pemicu (hampir) rusuh Makassar itu tidak gila alias waras atawa normal menurut hasil pemeriksaan Tim Psikolog (berita Fajar baca di sini) . Jadi, kesimpulan dari tim doketer/psikolog, Wandi membunuh pembantunya dilakukan dengan kesadaran penuh. Naudzubillahi min dzalik!. Orang ini mungkin perlu di hukum mati sebagaimana dikehendaki oleh keluarga Hasniati - sang korban, namun menurut saya, hukuman ini belum pantas buat dia, ada baiknya di penjara saja seumur hidup, supaya bayang-bayang kematian korban akibat perbuatan kejinya terus menerus menghantui hari-harinya. Itu lebih setimpal. Orang feodal yang gak punya sisi kemanusiaan dan menghilangkan kemanusiaan manusia marjinal yang 'kebetulan' dibayar olehnya atas pekerjaan halal itu tidak pantas di'manusia'kan. SHIT!



2 Comments:
Greets to the webmaster of this wonderful site! Keep up the good work. Thanks.
»
Very pretty design! Keep up the good work. Thanks.
»
Post a Comment
<< Home